Hidup Berkemenangan Atas Dosa

Hidup Berkemenangan Atas Dosa

Rasul Paulus dalam surat Roma pasal 6 menjawab pergumulan jemaat tentang besarnya kasih karunia Allah dan perbuatan dosa. Menurut Paulus betapa besar kasih karunia Allah yang menyelamatkan manusia berdosa, dan jangan karenanya, manusia terus berbuat dosa supaya kasih karunia itu semakin bertambah ! Bagian Roma 6:1-14 paling tidak ada 2 langkah penting untuk hidup berkemenangan atas dosa ?

  1. Kita sudah mati bagi dosa, hidup bagi Allah (ay.11)
    Rasul Paulus berkata di bagian awal ayat 2, : “… Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu ? Sekali-kali tidak! Paulus menunjukkan gambaran yang jelas saat seorang Kristen mengambil bagian dalam sakramen baptisan air. Baptisan air memiliki makna bahwa orang Kristen sudah mati bersama Kristus dan dibangkitkan bersama Kristus ! Manusia lama mati bersama Kristus dan dibangkitkan sebagai manusia baru (ayat 3 – 4). Jadi, kita adalah orang-orang yang SUDAH MATI bagi dosa ! Orang mati tidak mungkin suka makanan bukan? Orang mati tidak bisa digodai bukan? Nah, demikianlah kita seharusnya memandang diri kita, adalah ORANG MATI bagi dosa! Paulus berkata “Demikianlah kamu hendaknya memandangnya: Bahwa kamu telah mati bagi dosa,..” (ayat 11). Kita harus “terus menerus” memandang diri kita dalam arti sadar dengan iman, bahwa kita SUDAH MATI bagi dosa ! Dengan demikian, kita terus ingat bahwa dosa tidak ada kuasanya lagi di dalam kehidupan kita. Artinya bahwa dosa tidak menjadi tuan atas hidup kita, dosa tidak bertakhta dan mengambil posisi penting di hati kita lagi. Itu sebabnya kita harus sadar bahwa kita sedang bergumul, berjuang terus untuk hidup bagi Tuhan Yesus dan bukan bagi dosa !

  2. Jangan lagi membiarkan dosa menguasai hidup kita ! (ay.12).

    Sadarilah bahwa kita sedang dalam perjuangan melawan dosa. Dosa ingin menguasai tubuh kita. Tidak ada seorang Kristen pun yang tidak mengalami godaan untuk jatuh dalam dosa. Lihat saja di Alkitab, semua tokoh Alkitab dicobai, digodai untuk berbuat dosa. Bahkan Tuhan Yesus, Allah yang menjadi manusia ! (Matius 4:1-11). Memang tidak mungkin kita tidak digodai, tetapi kita dapat menolak dan TIDAK membiarkan dosa menguasai tubuh kita ! Jika demikian, maka mari kita berkata “TIDAK” terhadap dosa ! Teladan kita jelas, yaitu Tuhan Yesus. Dia digodai, namun tidak berbuat dosa. Dia tidak membiarkan dosa menguasai tubuhNya. Satu lagi teladan kita adalah Yusuf yang “lari” dari godaan istri Potifar untuk berbuat dosa, meski konsekuensinya sangat berat (Kejadian 39:7-13). Dan yang tidak kalah penting lagi, hindari ‘dekat’ dengan godaan dosa.
    Jangan menyerahkan anggota tubuh kita kepada dosa itu. Artinya, kita seharusnya dengan disiplin menolak menyerahkan anggota tubuh kita; mata, telinga, pikiran (otak), hati, mulut, tangan dan kaki serta seluruh tubuh ini kepada dosa ! Disiplinkan tubuh kita untuk terbiasa tidak menyerahkan pada godaan dosa ! Seringkali kita membiarkan anggota tubuh ini menikmati dosa sedikit-sedikit dan tanpa kita sadari kita telah dikuasai dosa! Jika kita tahu itu bacaan atau tontonan yang berdosa, stop dan tinggalkan ! Setiap orang yang sudah lahir baru tidak ingin berbuat dosa, tetapi sebaliknya, rindu untuk menyenangkan hati Tuhan Yesus! Karena hati nurani kita telah disucikan oleh Tuhan, dosa hilang kuasanya atas tubuh kita (ayat 5-6) ! Amin…

( Ev. Gunaelson )

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *