Perfect Plan

 (Kej. 37:5-11, 39:1-4, 19-20; 40:23 ; 50:20).

Hidup penuh dengan impian, rencana demi rencana. Namun apa yang terjadi ketika semua impian dan rencana hidup kita tidak terjadi seperti yang kita harapkan ? Bagaimanakah kita dapat memilki sebuah Rencana yang Sempurna? Kita belajar dari kisah hidup Yusuf.

  1. Mengenal rencana Allah atas hidup kita. (Kej. 7 : 5-11).

Di usia 17 tahun, Yusuf mendapatkan 2x mimpi. Kedua mimpi Yusuf ini bersifat Wahyu Ilahi. Dimana melalui mimpi itu, Allah menyatakan rencana-Nya atas Yusuf, bahwa Yusuf akan menjadi orang nomor satu diantara 11 saudara-saudaranya.

Aplikasi : Allah punya rencana atas hidup Yusuf, demikian pula Allah punya rencana atas hidup kita anak-anak-Nya. Oleh karena itu maka semua rencana-rencana hidup kita harus sesuai dengan tujuan dan rencana Allah atas hidup kita. Rencana yang Sempurna dimulai dari kita mengenal rencana Allah atas hidup kita

Allah menyatakan rencana-Nya pada kita melalui: Doa, Alkitab, Firman Allah yang akan menerangi jalan kita. Keadaan sekeliling kita, yaitu melalui kesempatan yang terbuka dan tertutup. Nasehat dari orang yang rohani. Damai sejahtera dalam hati kita. Lewat talenta atau bakat yang Allah berikan.

Apakah rencana-rencana yang kita buat, selaras dengan rencana Allah atas hidup kita ? Mari kita peka dan mengenal rencana Allah atas kita dan serahkan semua rencana-rencana kita pada Allah.

  1. Bersedia Menjalani Proses. ( 39:1-4 ; 39:19-20; 40:23).

Allah telah memberitahukan panggilan-Nya, rencana-Nya atas Yusuf, bahwa Yusuf akan menjadi orang besar dan penting. Namun Allah sama sekali tidak memberitahukan bagaimana proses Ia akan mencapai dan menyempurnakan rencana-Nya pada Yusuf. Allah tidak memberitahukan pada Yusuf bahwa untuk mencapai rencana-Nya itu, Yusuf akan menjalani proses yang berat. Dia akan dibuang ke dalam sumur oleh saudara-sudaranya supaya dia mati, tidak jadi, selanjutnya ia dijual sebagai budak, lalu dia akan bekerja sebagai budak di rumah Potifar, disana kemudian dia difitnah oleh isteri Potifar, lalu dimasukkan ke dalam penjara atas hal yang tidak pernah dilakukannya, dan dia dilupakan. Tidak ada penjelasan apapun akan hal itu.

Setelah mimpi itu, Yusuf menjalani proses yang sangat berat. Tidak ada satu mukjizatpun yang dialami oleh Yusuf. Namun, bagaimana Yusuf menjalani semua itu?.

Ditengah-tengah proses yang berat itu, Yusuf tetap dapat melakukan yang terbaik. Dia tidak menjadi putus asa dan menyerah apalagi meninggalkan imannya kepada Tuhan. Mengapa Yusuf dapat seperti itu? Karena dia memiliki Kedekatan dengan Allah, dia percaya pada rencana Allah atas hidupnya dan karena itulah dicatat: Tuhan selalu menyertai dia.

Dalam semua itu, Yusuf telah mengalami pembentukan dalam segi karakter, dia telah dibentuk menjadi seorang yang tabah, tegar, seorang yang bertanggungjawab, seorang yang telah mencapai prestasi yang besar, sehingga orang-orang akan sujud kepadanya dengan penuh hormat tanpa paksaan. Yusuf benar-benar telah menjalani kehidupan yang luar biasa.

Penderitaan, tragedi, sakit penyakit, musibah, kesulitan hidup, keadaan-keadaan yang tidak menyenangkan, orang-orang yang menyebalkan, orang-orang yang menyakiti kita, itu semua dapat menjadi sarana Allah untuk mengantar kita sampai pada Tujuan-Nya atas kita. Karena “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu, …” (Roma 8:28).

Ditengah-tengah penderitaan yang kita alami, situasi-situasi yang tidak menyenangkan, mari kita belajar dari Yusuf, untuk tetap melakukan yang terbaik. Karena Dia mempunyai rencana yang indah atas hidup kita. (Yer. 29:11).

Saat kau tak mengerti, saat kau tak paham rencana-Nya, Saat kau tak melihat tangan-Nya, Percaya hati-Nya.

  1. Menyaksikan Karya Allah atas Hidup Kita. (45:4 ; 50: 20).

Setelah Yusuf berhasil, rencana Allah akhirnya tergenapi, Yusuf tidak menjadi sombong dan berkata : Kalau tidak ada aku, kalian sudah mati kelaparan semua. Dia juga tidak menyimpan kepahitan dalam hatinya kemudian membalas dendam atas perbuatan jahat saudara-saudaranya, “kalian semua ya sudah bikin aku menderita, sekarang saya yang berkuasa, saya akan masukkan kalian kedalam penjara, dst”. Yusuf tidak membiarkan kebencian, dendam itu membelenggu hatinya. Ia bebas dari kepahitan.

Jika kita berhasil, ketika Allah sudah memulihkan keadaan kita, Jangan sombong, Jangan juga menyimpan kepahitan masa lalu, sebaliknya ingat karya Allah, yang telah menjadikan segala sesuatunya indah pada waktunya, dan saksikan itu agar mereka yang mendengarnya dapat memuliakan Dia.

Penutup :

Tuhan menolong kita untuk masuk dalam rencana-Nya yang sempurna. Dimulai dengan kita mau mengenal apa rencana-Nya atas hidup kita, menyerahkan semua rencana kita, impian kita pada rencana Allah yang indah, yang jauh lebih besar melampaui rencana-rencana kita, selanjutnya mari kita bersedia menjalani setiap proses yang Allah ijinkan demi mencapai rencana-Nya atas kita dan akhirnya kita dapat menyaksikan karya Allah atas rencana-Nya dalam hidup kita. Amin.

(Ev. Lydia Henny Mulyono)

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *