The Bleeding Heart

(Markus 2:1-12).

Dunia ini dipenuhi dengan orang-orang berdosa yang sedang menuju pada kebinasaan kekal. Bagaimana hati kita menyaksikan mereka yang sedang menuju pada kebinasaan? The Bleeding Heart / Hati yang berbelaskasihan, dimulai dari fondasi yang benar yaitu: IMAN PADA YESUS.

V5 : “Ketika Yesus melihat Iman mereka…,”. 4 orang ini menggotong si lumpuh untuk dibawa pada Yesus, oleh karena mereka percaya bahwa Yesus dapat menolong dan menyembuhkan si lumpuh. Iman mereka pada Yesus itulah yang menggerakkan mereka untuk membawa si lumpuh pada Yesus.

Aplikasi : Apakah bapak ibu saudara sungguh-sungguh memiliki Iman percaya pada Yesus? Apakah bapak ibu saudara sungguh-sungguh yakin dan percaya bahwa Yesus jalan keselamatan? Ironis sekali, tidak sedikit orang yang datang ke gereja, seperti para Ahli Taurat, datang untuk melihat Yesus, mendengar pengajaran-Nya tetapi tidak percaya pada Yesus. Jika kita tidak punya Iman pada Yesus, maka tidak mungkin kita bisa membawa orang pada Yesus. Selanjutnya, setelah kita memiliki Iman pada Yesus, maka yang ke-2 : Memiliki CARA PANDANG ALLAH.

Bagi orang banyak, bagi Ahli Taurat, si lumpuh itu tidaklah penting, Berbeda dengan 4 orang ini. Mereka begitu peduli dengan penderitaan si lumpuh, mereka tidak memandang masa lalu si lumpuh, atau menghakimi keadaan si lumpuh, mereka hanya melihat bahwa si Lumpuh ini perlu ditolong, si lumpuh ini perlu Yesus, dan hati merekapun akhirnya dipenuhi dengan belas kasihan pada si lumpuh.

Aplikasi : Iman kita pada Yesus akan membawa kita memiliki cara pandang yang benar, yaitu cara pandang Allah, oleh karena Kristus hidup dalam diri kita. Dalam pelayanan Yesus didunia, kita dapat menemukan catatan dimana tiap kali Ia melihat orang-orang yang menderita, hatinya dipenuhi dengan belas kasihan. Memiliki Cara Pandang Allah berarti memandang jiwa-jiwa yang terhilang dengan penuh belas kasihan.

Di sekitar kita begitu banyak orang yang hidupnya “lumpuh” secara rohani, yang membutuhkan pertolongan kita untuk dia bisa bertemu dengan Yesus. Orang itu mungkin saja orang tua kita, saudara kita, sahabat kita, pegawai kita, murid kita, anak-anak kita. Setiap hari kita mungkin menjumpai mereka, Bagaimana kita memandang mereka ? Pernahkah kita terpikir bahwa mereka memerlukan Yesus ? Adakah hatimu tersentuh bahkan mungkin menangis melihat keadaan rohani mereka ? Setelah kita memiliki iman pada Yesus, kita memiliki cara pandang Allah terhadap jiwa-jiwa yang terhilang, maka selanjutnya harus ada ACTION. Belas kasihan yang kita miliki, bukan sekadar rasa prihatin atau bersikap simpati, tetapi ada Action. Seperti yang ditunjukkan oleh 4 orang dalam nats ini. Saat mereka tidak melihat pintu untuk bisa membawa si lumpuh itu pada Yesus, mereka tidak menyerah, mereka tidak kehabisan akal, mereka membongkar atap rumah dan akhirnya merekapun berhasil membawa si lumpuh pada Yesus. Seberapa sungguh iman kita dan belas kasihan kita pada jiwa-jiwa yang terhilang akan menentukan seberapa keras kita mengupayakan orang itu untuk dapat mengalami perjumpaan dengan Yesus. Apakah rasa belas kasihan yang timbul dalam diri kita, sudah menggerakkan tindakan konkrit untuk membawa jiwa-jiwa yang terhilang itu pada Kristus ?

Penutup : Kalau Tuhan sudah gerakkan hati kita, mari kita lakukan bagian kita. Setiap kita punya kapasitas dan tidak ada yang lebih tinggi atau rendah. Tuhan menolong kita untuk memiliki hati yang berbelaskasihan pada jiwa-jiwa yang terhilang, membawa mereka pada Yesus sesuai bagian kita. Amin.

( Ev. Lydia Henny Mulyono )

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *