Mencari Domba Sesat

(Lukas 15:1-7)

“Susah lihat orang senang, senang lihat orang susah”. Slogan ini nampaknya juga tercermin dari sikap dan perkataan orang Farisi dan ahli taurat dalam bacaan kita. Mereka mempersoalkan kepantasan para pemungut cukai yang datang kepada Yesus. Bagi orang Farisi dan ahli taurat, pemungut cukai adalah sampah masyarakat yang seharusnya dihindari. Mereka tidak pantas diajar dan Yesus juga tidak pantas makan bersama mereka. Ironisnya, para pemungut cukai dan orang berdosa itu mendekati Yesus untuk mendengarkan firman Tuhan; sedangkan orang-orang Farisi dan ahli-ahli taurat justru sering mendekati Yesus dengan maksud mencari kesalahan/mengkritik Yesus.

Di sini kita dapat melihat dua sikap dan pandangan yang berbeda antara Yesus dengan orang Farisi dan ahli Taurat. Yesus berpandangan bahwa “akan ada kesukaan besar di surga apabila seorang berdosa bertobat”. Berbeda dengan pandangan Yesus, orang Farisi dan ahli Taurat berpandangan sebaliknya, bahwa “akan ada kesukaan besar di surga apabila seorang berdosa diberantas dari hadapan Allah.” Dua pandangan yang sangat berbeda.

Dalam bagian ini Yesus menegur orang Farisi dan ahli Taurat tentang pemikiran teologi mereka yang sudah jauh melenceng dari Ajaran Allah. Yesus menjawab keberatan orang Farisi dan ahli Taurat itu melalui perumpamaan tentang “Domba yang Hilang”. Melalui perumpamaan ini Yesus mau menunjukkan apa yang ada di hati Allah terhadap para pemungut cukai dan orang-orang berdosa.

Siapakah yang dimaksud dengan “domba yang hilang” itu? Nabi Yesaya berkata: “Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, . . . ”. (Yes 53:6). Kita semua adalah domba sesat itu. Atau paling tidak, pernah menjadi domba sesat. Jika seekor domba tersesat maka dia berada dalam bahaya besar. Jika tak ada pertolongan, maka dapat dipastikan dia akan binasa. Bukankah ini juga menggambarkan situasi diri kita. Seorang pendosa, termasuk saya dan saudara, tidak dapat menyelamatkan diri dengan kekuatan diri sendiri. Kita membutuhkan pertolongan dari pihak lain.

Perhatikanlah perumpamaan ini. Ketika ada satu domba yang hilang, maka sang gembala-lah yang dengan aktif mencari sampai menemukan domba yang hilang itu. Posisi aktif ada di tangan sang gembala, bukan pada si domba. Begitu juga dengan kita, Allah-lah yang menemui kita. Keselamatan kita ada “hanya” karena kasih karunia Allah semata (sola gratia), bukan hasil kerja manusia. Kita harus menghargai anugerah keselamatan yang Tuhan berikan.

Siapakah kita sampai Allah mau mencari saya tiada habis-habisan? Bukankah kita juga pernah memberontak dan merasa jemu hidup bersama Sang Gembala. Akibatnya, kita tak berdaya dalam kekotoran, tanpa harapan, dan tanpa masa depan. Bukankah Sang Gembala dapat mengganti diri kita dengan domba-domba lain yang jauh lebih baik? Siapakah kita, sehingga Ia mau terus mencari kita? Bahkan, demi menemukan kita, Allah berjuang habis-habisan. Dia telah mengorbankan anak-Nya yang tunggal demi saudara dan saya.

Melalui perumpamaan ini, Yesus menunjukkan kepada kita bahwa Dia bersedia makan bersama orang-orang yang terpinggirkan, baik secara sosial maupun rohani. Bersediakah kita, sebagai pribadi dan jemaat juga melaksanakan hal itu pula? Sikap Kaum Farisi dan ahli Taurat, seharusnya membuat kita ber-introspeksi diri: Sebagai murid Yesus Kristus, bagaimana sikapku selama ini terhadap orang yang (kita anggap) berdosa dan terpinggirkan?

Perumpamaan ini mengingatkan kita sebagai murid Yesus Kristus, agar tidak mengulangi kesalahan kaum Farisi dan ahli Taurat. Mereka berhasil membuat hukum dan aturan Taurat menjadi segala-galanya, namun meninggalkan jiwa dari Sang pembuat hukum dan aturan Taurat itu sendiri, yaitu Allah yang penuh kasih. Allah mengasihi kita, dan Dia mau kita mengasihi sesama kita. Walau melaksanakan kasih tidak semudah mengucapkannya, tapi kita tahu bahwa: Allah telah mengutus Yesus untuk menyelamatkan yang terhilang dan berdosa, dan Yesus telah memberikan kita Roh Kudus untuk mengerjakan keselamatan yang kita peroleh di dalam-Nya dengan mencari dan membawa pulang yang terhilang.

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *