Hadapi Tantangan Bersama

22
Jun

Hadapi Tantangan Bersama

Filipi 2:2-3 karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri.

Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh, inilah sebuah semboyan yang seringkali diajarkan oleh sekolah-sekolah di Indonesia. Indonesia memiliki kekayaan yang luar biasa yaitu terdiri dari berbagai pulau, suku bangsa, bahasa dan agama. namun kekayaan ini juga bisa merupakan kelemahan besar bangsa Indonesia, yaitu jika karena keberagaman ini maka bangsa ini sangat muda sekali di adu domba, konflik atau perselisihan seringkali menwarnai kehidupan bangsa ini. Karena itu penting sekali untuk menghadapi tantangan yang bisa mengancam keutuhan bangsa ini, maka Indonesia harus tetap bersatu.

Demikian juga hal sebagai orang Kristen, kita perlu sadar bahwa kesatuan adalah sebuah hal yang sangat penting di perjuangkan. Paulus mengingatkan pentingnya bersatu ketika jemaat di Filipi mengalami tantangan yang bisa mengakibatkan perpecahan jemaat. Di dalam Yesus setiap kita telah dipersatukan dalam satu Roh, yaitu Roh Kudus. Jadi Roh Kudus turut aktif bekerja untuk mempersatukan setiap kita. Bahkan Yesus pun berdoa dalam Yohanes 17:21 agar setiap umat Tuhan dapat bersatu melewati kehidupan sebagai umat Tuhan.

Dalam khotbah seorang Pendeta, dikatakan bahwa untuk bersatu kita perlu mengerti bahwa bukan berbicara satu hati dan jiwa, namun juga satu pemikiran dan tujuan. Bukan hanya bicara tentang ikatan emosional, namun kesadaran intelektual. bukan hanya bicara kebiasaan dan kebersamaan, tetapi disatukan oleh satu tujuan. Jadi baik relasi, pikiran dan tujuan harus dibangun bersama-sama dalam umat Tuhan.

Cara untuk bersatu adalah dengan cara belajar menempatkan kepentingan orang lain lebih utama dibandingkan diri sendiri. Disini bukan berbicara bahwa kita tidak boleh berpikir tentang kepentingan diri sendiri, melainkan seberapa seringkah kita lebih banyak memikirkan kepentingan orang lain daripada diri sendiri. Sebagai manusia berdosa, tentulah kita lebih cendrung memikirkan diri sendiri lebih dahulu daripada orang lain, namun sebagai anak Tuhan kita dipanggil untuk memikirkan orang lain lebih utama dari diri sendiri. Melayani dan bukan dilayani. Jadi baik dalam lingkup berjemaat, maupun dalam lingkup keluarga, setiap kita bisa menghadapi tantangan jika kita belajar untuk menempatkan kepentingan orang lain lebih utama dari diri sendiri.

KESATUAN bukan KESERAGAMAN, MELAINKAN BELAJAR MEMPUNYAI RELASI, PIKIRAN DAN TUJUAN YANG SAMA.