PERAN SIAPA?

14
Jun

PERAN SIAPA?

“olahlah bagiku makanan yang enak, seperti yang kugemari, sesudah itu bawalah kepadaku, supaya aku makan, agar aku memberkati engkau, sebelum aku mati”
(Kejadian 27:4)

Soal urusan dapur, siapa yang harus bertanggungjawab? Kalau urusan menyiapkan makanan untuk seisi rumah, siapa yang harus menyediakannya? Banyak yang bisa berkomentar. Saudara juga bisa berkomentar sesuai dengan posisi dan kondisi keluarga saudara

Bila kita simak kisah di Kejadian 27, ada “kesan janggal”, bahwa Ishak baru akan memberkati Esau setelah Esau menyediakan hidangan kesukaannya. Hebatnya, Esau tahu dan tahu masak makanan kesukaan ayahnya. Di mana Ribka? Apakah selama ini Ribka kurang masak buat Ishak suaminya? Kenapa untuk hidangan kesukaannya, Ishak tidak meminta bantuan Ribka? Sibukkah Ribka? Nampaknya tidak juga. Kalau kita baca pada ayat 5, Ribka menguping pembicaraan Ishak dengan Esau. Lalu kenapa Ishak tidak minta Ribka yang mengolahkan makanan baginya? Tidak tahu masakkah Ribka? Tidak juga. Ayat 9 Yakub disuruh mengambil kambing dan Ribka akan mengolahnya. Jadi, dari percakapan dalam kitab Kej. 27, kita menemukan ada sesuatu yang tidak beres dan tidak berjalan sebagaimana mestinya sebuah keluarga. Apa itu? Peran yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Peran yang tidak berjalan akhirnya digantikan oleh orang lain, khususnya yang dekat. Dalam hal ini Ribka tidak berperan sebagaimana mestinya, maka Esau yang menggantikannya. Ishak tahu bahwa Ribka tahu makanan kesukaannya, tetapi Ishak lebih memilih Esau yang membuatnya. Di sisi lain, Ishak tidak berpesan sebagaimana mestinya, akibatnya terjadi blok dalam keluarga. Esau di blok ayah, Yakub di blok ibu. Akibatnya, hal sepele seperti urusan dapur akhirnya menjadi penyebab perpecahan dalam keluarga.

Ingat!!, kehidupan dalam keluarga itu akan menjadi model buat keluarga berikutnya. Maksudnya, kalau ibu dan ayah tidak berperan sebagaimana mestinya maka anak-anak yang menyaksikan situasi ini, besar kemungkinan ia akan mencontohnya. Prakteknya, ayah berperan dalam hal-hal prinsip, seperti: membimbing anak untuk percaya Yesus, harus pergi gereja, cari pasangan yang seiman dll. Ibu berperan dalam hal-hal praktis seperti: bagaimana mengatur rumah, bagaimana berpakaian, bagaimana bersikap kepada orang. Oleh sebab itu, sebagai orang tua kita diingatkan, ayo berperan sebagaimana mestinya dan jangan lemparkan peran kita kepada orang lain. Kristus yang memanggil dan memberi peran orang tua kepada kita, Kristus juga yang akan memampukan dan memperlengkapi kita. Kristus adalah hikmat kita dalam menjalani kehidupan rumah tangga.

“Jika kita tidak memerankan peran sebagaimana mestinya, maka orang lain akan mengambil peranan kita dengan cara tidak semestinya”