TEOLOGIA NAMA

25
Jul

TEOLOGIA NAMA
Hakim 13:17-18 Yesaya 9:5; Matius 1:21-23

Mungkin orang tua generasi dulu, saat memilihkan nama buat anak-anaknya, yang diperhatikan adalah soal ucapannya yang gampang dan maknanya bagus, misalya: Budi, Suharto, Murni, Suci, Setia dll. Orang tua sekarang lebih pintar lagi, mereka mencarikan nama buat anak-anaknya selain bagus, enak didengar kadang sulit diucapkan oleh opa-omanya dan lengkap dengan artinya.

Nama itu penting. Kita sering mendengar orang berkata kita perlu menjaga nama baik. Ia telah menghina namaku. Ia telah mencemarkan nama baikku. Nama itu penting, karena di dalam sebuah “nama” terdapat reputasi, status, kehadiran, karakter dan mengandung arti yang sangat dalam bagi si penyandang nama. Mari kita menyadarkan diri bahwa, “Nama adalah alamat ditujukannya semua kebaikan”.

Teologi Nama bermaksud menghadirkan sebuah pandangan tentang pemberian nama kepada manusia, pemberian nama oleh Allah. Dan pada akhirnya setiap kita menjadi bijak dalam memberi nama buat tempat, tempat usaha dan nama anak-anak kita.

a. Bila Manusia Memberi Nama => Nilai Pengharapan dan Nubuatan
Dari mula, Tuhan Allah telah melimpahkan wewenang dan tanggungjawab kepada manusia untuk menamai ciptaan lain (Kej. 2:19-20). Tanggungjawab itu digunakan juga untuk memberi nama pada manusia dan nama tempat. Misalnya, Abraham menamai anaknya yang baru dilahirkan Sara istrinya itu Ishak artinya “tertawa” (Kej. 21:3, 6). Yakub menamai tempat dimana ia berjumpa dengan TUHAN dalam mimpi itu Betel artinya “rumah Allah” (Kej. 28:19).

Pemberian nama kepada manusia mengandung makna yang dalam dan lebih pribadi sifatnya. Saat manusia memberi nama, diharapkan terwujud hal-hal yang indah. Misal, anak diberi nama “UNTUNG”, harapannya kelak anak ini selalu beruntung. Nama “SUGIHARTA”, harapannya kelak anak ini akan kaya dengan harta. Dalam Kej. 30:24, Rahel menamai anak yang baru dilahirkannya itu dengan nama Yusuf. Yusuf artinya mudah-mudahan TUHAN menambahkan seorang anak laki-laki lagi bagikku. Apakah pengharapan seperti demikian terwujud? Ya, Tuhan memberi seorang anak lagi kepada Rahel dan anak itu namai Ben-Oni.

Nama tidak hanya memiliki nilai pengharapan belaka, tetapi ada juga nilai nubuatannya. Misalnya nama Ben-Oni, oleh Yakub ayahnya diubah menjadi Benyamin (Kej.35:18). Yakub mengganti nama Ben-Oni artinya “Putra Kesusahanku” menjadi Benyamin. Yakub tidak mau nantinya nama ini menjadi nubuatan bagi anaknya. Nama Benyamin sendiri berarti “Putra Tangan Kananku”. Nubuatan nama ini terjadi. Benyamin benar menjadi tangan kanan Yakub saat Yusuf dijual oleh kakak-kakaknya ke Mesir.. Contoh lain, nama “Nabal” yang berarti “tolol”. Mungkin maksud orang tuanya agar anak ini kelak dijauhkan dari kebodohan, ternyata sebaliknya kelakuan Nabal benar-benar tolol, namanya menjadi nubuat buat dirinya.

b. Bila Allah Memberi Nama => Nilai Pembaharuan
Dalam Alkitab kita melihat bahwa Allah terlibat dalam pemberian nama atau nama baru kepada seseorang. Pada waktu Allah memberi nama atau nama baru kepada seseorang, maka nilai yang terkandung di dalamnya adalah nilai pembaharuan. Misal nama Abram yang artinya “Bapa dimuliakan” menjadi Abraham artinya “Bapa Segala Bangsa” atau “Bapa Orang Beriman”. Nama Salomo artinya “Damai Sejahtera” menjadi Yedija artinya “Kekasih Yahweh”. Nama Simon dari kata Simeon artinya “Mendengar” diganti oleh Yesus menjadi Petrus artinya “Batu Karang”. Bisa kita lihat bagaimana kualitas dari tokoh-tokoh yang diganti namanya oleh Allah. Abraham akhirnya menjadi tokoh yang menunjukkan kualitas iman yang perlu dicontoh. Salomo menjadi orang yang dikasihi Allah, ia dikaruniai pengertian dan kekayaan oleh Allah. Simon menjadi seorang tokoh yang kuat dan di atas pundaknya Yesus memercayakan penggembalaan jemaat-jemaat Yesus. Nama baru yang Allah berikan kepada seseorang benar-benar membaharui: reputasi, karakter, kehidupan dan kualitas pribadi tertentu seseorang.

c. Kesimpulan
Kita perlu cermat dan bijak saat memberi nama, tempat usaha dan nama buat anak-anak kita. Pemilihan nama tidak semata didasari atas indahnya, kerennya, atau enak diucapkan. Kita juga perlu memperhatikan nilai-nilai pengharapan apa yang terkandung dalam nama itu. Pengharapan lebih difokuskan pada apa yang bisa ia berikan dan bukan semata apa yang bisa ia terima. Dan jangan nama yang kita berikan itu bisa menjadi nubuat bagi dirinya. Mari berpikir bijak dan minta pimpinan Tuhan saat memilihkan nama buat anak-anak kita.

Bila kita, anak-anak kita telah punya nama, dan kita merasa nama itu kurang bagus, kurang bermakna atau tidak ada nilai pengharapannya, apakah kita juga perlu minta Allah mengganti nama itu? Tentu tidaklah perlu. Dalam Yesus, Allah telah memperbaharui status kita, dari orang yang patut dimurkai karena dosa mejadi orang yang dikasihi Allah. Yang terpenting saat ini, kita minta Allah memperbaharui komitmen, sikap hidup, karakter, kualitas rohani dan minta Allah mencatat nama kita di dalam buku kehidupan-Nya. Dan mari kita berjuang menjaga nama baik kita, keluarga kita, gereja kita dan Tuhan kita, melalui hidup suci, murni, berbuat apa yang baik dan benar dalam hidup keseharian kita. Soli Deo Gloria