Pertemuan yang Mengubahkan

15
Feb

Pertemuan yang Mengubahkan
(Lukas 5:27-32)

Masih dalam rangka bulan kasih sayang, permisi bertanya: Masih ingatkah anda akan pengalaman pertama kali bertemu dengan orang yang anda kasihi entah suami, istri atau kekasih anda? Bagi anda yang menikah dengan pengalaman jatuh cinta pada pandangan pertama, saya kira moment pertemuan itu tentu terasa sangat istimewa dan menjadi kenangan manis bagi anda dan pasangan, bukan?

Berbicara soal pertemuan yang istimewa, seorang pemungut cukai bernama Lewi atau Matius dapat mengisahkannya dengan baik kepada kita semua.
Suatu hari, ketika sedang bekerja menarik pajak dari penduduk setempat, mata Lewi bertemu dengan mata Yesus. Rupanya tanpa ia sadari, Yesus sudah berdiri disana dan melihatnya bekerja. Ketika mata mereka bertemu, dengan penuh kasih, Yesus berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!” (Ay. 27).

Yesus mengetahui dengan jelas siapa Lewi, apa profesinya, bagaimana kecurangan yang telah ia lakukan serta sanksi sosial berupa hujatan masyarakat yang diterimanya.

Dalam masyarakat Yahudi, para pemungut cukai termasuk orang-orang yang dipandang sebelah mata. Mereka dianggap sebagai antek pemerintah asing yang menyengsarakan bangsa mereka sendiri. Mereka juga dicap sebagai orang yang tidak jujur dan tamak karena menarik pajak lebih tinggi daripada seharusnya. Selain itu, pergaulan mereka yang sangat akrab dengan orang-orang asing seringkali menempatkan mereka sebagai pelanggar adat-istiadat Yahudi, terutama hukum halal – haram.

Di tengah kondisi seperti itu, Yesus datang dan memanggil Lewi. Panggilan ini diberikan terlepas dari kondisinya yang masih sangat carut-marut. Allah memang tidak membutuhkan orang sempurna, tetapi orang yang rindu dirinya disucikan dan dipulihkan oleh Allah.

Seperti Lewi, saudara dan saya juga telah ditemui secara khusus oleh Yesus. Masih ingatkan anda akan moment itu? Ketika kita masih sangat berdosa, Yesus datang mencari, melawat, mengampuni dan memulihkan kita. Betapa Allah mengasihi saudara dan saya. Ia tahu kita tidak berdaya tanpa-Nya, Ia tahu kita tidak mungkin dapat menyelamatkan diri sendiri, itulah sebabnya Yesus datang menemui kita.

Kini, ketika kita sudah diselamatkan oleh-Nya, maukah kita senantiasa hidup dekat dengan-Nya? Maukah kita semakin hari semakin rindu mengenal dan mengasihi-Nya lebih lagi? Kiranya Allah senantiasa menolong kita semakin dekat dengan-Nya, amin.