Yesus vs Sensus

21
Dec

“Yesus vs Sensus”
(Lukas 2:1-7)

Nampaknya pandemi covid-19 sudah mulai melandai. Aktivitas keseharian semakin meningkat. Bisnis, pasar, sekolah, mall dan tempat keramaian lainnya sudah lebih hidup. Tempat wisata sudah mulai banyak dikunjungi wisatawan. Ini ditandai, okupansi hotel – tingkat penghuni kamar hotel – meningkat. Anda mulai kesulitan dapat kamar hotel bila tidak lebih awal mencarinya, Ya bila Anda telat memesan kamar, jangan heran bila Anda mendengar kalimat “maaf sudah penuh.”

Demikianlah yang dialami Yusuf dan Maria, ketika mereka tiba di Betlehem. Ketika mereka tiba di sebuah penginapan dan Yusuf masuk menanyakan tentang kamar di penginapan itu. Sepintas Yusuf mendengar petugas penginapan berkata “maaf sudah penuh.” Bisa jadi, Yusuf dan Maria sudah menyinggahi di beberapa penginapan yang ada di kota Berlehem, tapi semua menjawab “maaf sudah penuh.” Tidak heran, kalau Yusuf dan Maria akhirnya menginap dikandang hewan yang ada disanalah Maria istrinya melahirkan.

Penyebabnya apa sehingga okupansi penginapan – tingkat penghuni kamar penginapan – meningkat pada waktu itu? Luk 2:1-3 menuliskan, karena pada waktu itu ada pendaftaran penduduk – Sensus Penduduk – yang pertama kali dilakukan atas perintah Kaisar Agustus. Antusias penduduk pergi mendaftar diri ke kota mereka masing-masing itulah yang menjadikan tingkat hunian penginapan meningkat. Dan rupanya karena Sensus Penduduk yang menyebabkan Yusuf dan Maria yang sebentar lagi akan melahirkan Yesus, Tuhan dan juruselamat manusia tidak mendapat tempat dihati orang-orang pada waktu itu.

Ada 3 (tiga) alasan yang bisa kita pikirkan, mengapa Sensus Penduduk mendapat tempat dihati orang-orang pada waktu itu. Dan karena hal itu perhatian kepada Yesus yang lahir tersingkirkan:

Pertama, karena ini perintah Kaisar Agustus, jika tidak dilakukan bisa dianggap memberontak. Penduduk tidak berani melanggar atau melawan perintah Kaisar, karena pasti akan mendapatkan kesulitan bahkan bisa mendapat hukuman yang setimpal, Dalam perjalanan hidup kita, sangat mungkin Yesus juga tidak mendapat tempat di hati kita. Kita takut, kalau kita membiarkan Yesus tinggal di hati kita, nanti kita akan mendapat kesulitan dan mungkin mendapat hukuman dari penguasa hidup, seperti aturan tradisi, aturan agama, atau perintah-perintah leluhur kita yang telah kita ikuti sejak dulu.

Kedua, takut kehilangan hak sebagai penduduk, kerena mereka yang pergi ke kota lain mungkin hanya sekadar mencari nafkah, buka bermaksud pindah kependudukan. Dalam perjalanan hidup kita, sangat mungkin Yesus juga tidak mendapat tempat di hati kita. Kita takut, kehilangan hak kita dalam keluarga, hak kita dalam masyarakat bahkan dalam negara. Dan kita takut kelak kita tidak dapat hak sebagai warga dikehidupan yang akan datang.

Ketiga, sensus ini adalah sensus yang pertama, bisa jadi ini menjadi daya tarik tersendiri. Bukankah yang pertama biasa menarik perhatian? Misalnya, mobil pertama, anak atau cucu pertama, bioskop pertama, maal pertama dan lain-lainnya. Dekatkanlah hidup kita kepada Yesus, melalui doa, perenungan, ibadah, sehingga Yesus selalu mendapat tempat pertama di hidup kita. Bila keinginan Yesus masuk, maka keinginan duniawi akan keluar dari hidup kita.

“Bila kita membiarkan hidup kita dipenuhi keinginan duniawi, maka bisa dipastikan tidak ada tempat lagi buat Yesus”